Saturday, June 21, 2014

Dadakan ke Museum Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Rasanya nggak ada orang Indonesia yang nggak kenal dengan 3 baris Sumpah Pemuda ini. Tapi, taukah kalian tentang Museum Sumpah Pemuda?

Kunjunganku ke Museum Sumpah Pemuda itu tidak terencana. Dikarenakan urusan pekerjaan, kakakku datang dari Jogja dan menginap 2 malam di Hotel Ibis Senen di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Seperti biasa, kalau kakak datang ke Jakarta, aku ikut menginap di hotelnya untuk menemaninya. Di hari terakhir, setelah check-out aku berjalan ke halte Transjakarta Pal Putih untuk pulang ke rumah dan aku melewati Museum Sumpah Pemuda! Langsung saja aku putuskan untuk mampir. 

Saturday, March 15, 2014

Wat Chalong (Biara Buddha di Pukhet - bagian 2)

2. Wat Chaithararam (Wat Chalong)
Masih meneruskan cerita saya tentang biara-biara Buddha di Phuket, kali ini saya akan bercerita tentang wat terbesar di Phuket, yaitu Wat Chalong. Lokasinya sekitar 7 km di selatan Phuket Town.
Tiga bangunan utama di Wat Chalong
Kompleks Wat Chalong dari atas "Chedi" (The Golden Pagoda)
Meski memiliki nama resmi Wat Chaithararam, wat terbesar di Phuket ini dikenal secara luas sebagai Wat Chalong. Disebut demikian karena wat ini memang berlokasi di subdistrik Chalong, distrik Mueang Phuket. Selain yang terbesar, Wat Chalong juga merupakan wat yang terpenting di Phuket yang ramai dikunjungi oleh penduduk lokal yang datang beribadah. Dan karena wat ini banyak dipromosikan sebagai salah satu tujuan wisata utama di Phuket, sehingga sering dimasukkan dalam rute-rute tur, maka tidak heran kalau banyak wisatawan asing yang mengunjungi Wat Chalong.


Friday, March 14, 2014

Biara-Biara Budha di Phuket (bagian 1)

Meski diterjemahkan sebagai 'temple' (alias kuil) dalam Bahasa Inggris, kata "wat" lebih tepat disebut sebagai 'monastery' atau biara. Bedanya apa sih? Biara bukan hanya sekedar tempat ibadah, namun juga menunjukkan keberadaan tempat tinggal biksu sekaligus tempat pembelajaran ajaran Buddhisme. Tapi, menurut Wikipedia, dalam bahasa Thailand sehari-hari, kata "wat" itu mengacu pada tempat peribadatan apa saja, bukan cuma Buddhisme. Well, kalo wat doang memang maksudnya biara Buddha, tapi kalau ada embel-embelnya baru beda artinya; misalnya  wat cheen adalah kuil China (baik kuil Buddha maupun Taoisme), wat khaek adalah kuil Hindu temple, dan wat kris atau wat krit atau wat farang adalah gereja Kristen. 


Wat ChalongBig BuddhaWat Phra Nang Sang

Wat PuttamongkonnimitWat Phra Tong

Sudah terkenal bahwa wat-wat Buddha di Thailand itu cantik dan megah, tak terkecuali di Phuket. Memang wat-wat di Phuket tidak semewah dan sebesar yang di Bangkok, tapi wat-wat di Phuket tetaplah menarik karena menyimpan nilai sejarah dan cerita yang tinggi, salah satunya adalah Wat Chalong yang menyimpan potongan relik Siddhartha Gautama berupa potongan giginya.

Sunday, March 2, 2014

Imigrasi di Udara

Kemarin, setelah 2 tahun, saya terbang ke Jakarta bersama Garuda Indonesia dari Bandara Incheon. Yang menarik adalah dalam penerbangan tersebut, GA789, Garuda Indonesia bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Indonesia menyediakan jasa pelayanan imigrasi di atas pesawat. Jadi, ketika kami mendarat kami tidak perlu lagi mengantri di loket imigrasi.

Petugas Imigrasi yang melayani

Tuesday, February 25, 2014

Phuket Old Town

Karena saya bosennnn hiburan (yang gratis ato murah) di Patong tuh itu itu saja, hari ketiga saya memutuskan untuk main ke Phuket Town, ibukotanya Propinsi Phuket yang juga kota terbesar di Pulau Phuket. Tujuan utama saya adalah kawasan kota tuanya Phuket yang lazim disebut Old Town.



Old Phuket Town dicirikan oleh deretan apartemen bergaya Shino-Portugis yang merupakan perpaduan arsitektur Eropa dan China. Kok China? Jadi ceritanya, ketika tambang timah ditemukan di Phuket, mereka kekurangan tenaga kerja sehingga mereka mendatangkan tenaga kerja dari China. Bersama kaum pekerja ini, sejumlah pedagang dan saudagar dari China juga datang ke Phuket untuk membuka bisnis di sini. Kok Portugis/Eropa? Sebelum timah ditemukan d Phuket, pulau ini sudah menjadi salah satu pusat perdagangan internasional sehingga masuk juga pengaruh-pengaruh arsitektur Eropa. Bahkan ada mansion-masion asing megah dibangun di sekitar Old Phuket Town. Selain itu, gaya bangunan yang campuran China-Eropa ini emang saat itu lagi ngetren di kawasan Asia Tenggara.

Sunday, February 23, 2014

Ada Apa Lagi di Patong? (Patong Beach - bagian 3)

Alias "Atraksi Pariwisata Di Patong Yang Tidak Saya Coba". 
Berhubung saya datang ke Phuket dalam rangka konferensi, maka jadwal saya kurang fleksibel. Plus, saya dalam mode "kere-traveler" yang lagi bokek. Sungguh, kalau tidak karena konferensi ini saya ogah banget ke luar negeri. Jadi, saya harus pilih-pilih mana yang saya lakukan mana yang enggak. 
Di hari keempat, saya booking full day tour ke Teluk Phang Nga (ini cerita untuk entri selanjutnya) yang harganya lumayan mahal. Karena duit sudah banyak dialokasikan ke sana, jadi tempat main yang keluar duit harus dicoret. Masalahnya, tempat-tempat wisata yang gratisan itu nggak terlalu banyak jumlahnya di Phuket; apalagi di Patong. Ini beberapa 'hiburan' di Patong yang saya skip.

1. Tukang Jahit
Contoh klan Tailor shop
Boleh percaya atau enggak, tukang jahit atau istilah kerennya tailor shop itu salah satu ‘atraksi wisata’ yang dibanggakan. What’s so special about it? Saya juga nggak yakin ^^; Mungkin karena murah? Dengan paket harga tertentu (sekitar USD 160an atau Euro 130an, kalo nggak salah) kostumer bisa 2 stel jas atau 2 buah dress, custom made. Kualitas bahannya kurang paham juga karena saya nggak coba masuk juga. Oh iya, katanya sih bisa jadi dalam 24 jam saja.

Tuesday, February 18, 2014

Hedonisme di Soi Bangla (Patong Beach - bagian 2)

Peringatan! Entri blog berikut menampilkan pembahasan yang bertema dewasa yang mungkin mengganggu untuk beberapa orang.


Buat yang sudah baca cerita saya sebelumnya (yang belum hayuk dibaca dulu), di situ saya cerita tentang Patong Beach di siang hari. Kalau siang-siang para turis di Patong ke pantai, malamnya mereka ngapain? Jawabannya adalah ke bar

Gerbang masuk Soi Bangla. Ujung satunya ada di tepi Patong Beach
Gemerlapnya Soi Bangla di malam hari
Nightlife di Patong sangat spektakuler, yang paling heboh di seluruh penjuru Phuket. Pusat kehidupan malam Patong berpusat di Bangla Road (Soi Bangla dalam bahasa Thailand). Panjang Soi Bangla mungkin hanya setengah dari panjang Jalan Malioboro di Jogja. Pada malam hari, Soi Bangla tertutup untuk kendaraan mulai jam 6 sore. Jalanan pun (lagi-lagi) dipenuhi oleh turis.

Monday, February 17, 2014

Patong Beach (bagian 1)

Berhubung konferensi yang saya ikuti diadakan di Patong Beach selama 3 hari, maka saya mem-booking kamar di salah satu hostel di Patong Beach untuk 4 malam. (Sebenarnya uang akomodasi yang saya terima untuk konferensi ini memungkinkan buat booking kamar di hotel yang lebih mahal, tapi duitnya mending buat ongkos jalan-jalan saja :D). Hostel saya berjarak 15-20 menit berjalan kaki dari pantai.
Trotoar di tepi pantai Patong
Patong Beach adalah kawasan pantai terpanjang dan terpopuler di Phuket. Pantainya merupakan hamparan pasir putih yang menghadap ke laut lepas yg berwarna hijau kebirauan. Lautnya bersih dan sangat dijaga agar bebas dari sampah. Karena lokasinya di sebuah teluk, maka perairannya relatif tenang dan aman untuk berenang. Keindahan Patong Beach juga didukung oleh tebing yang rindang akan pepohonan yang mengapit sisi kiri dan kanan teluk ini. Wajar jika Patong Beach menjadi salah satu tujuan terpopuler di Phuket.

Nginap di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan

Pada tanggal 10-12 Februari 2014, saya menghadiri sebuah konferensi international di Phuket, Thailand. Cuma poster session sih, tapi lumayan lah bisa ke Phuket gratis. Kebetulan saya belum pernah ke Thailand.
Pesawat saya dari Seoul dijadwalkan berangkat pada 9 Februari 2014 jam 8.15 pagi. Jadinya jam 6 pagi udah harus di bandara. Padahal kereta (subway) di Seoul baru mulai jalan 5.30 dan butuh 1,5 jam untuk nyampe ke Bandara Incheon dari asrama saya tinggal. Naik taksi mahal, naik bis lebih murah tapi jalannya ke sana dari asrama lumayan jauh dan ini lagi winter. Not quite an option. Jadi saya putuskan untuk naik subway malam sebelumnya dan nginep aja di Bandara Incheon. Apalagi Incheon punya reputasi yang sangat bagus sebagai bandara terbaik buat dipake nginep menurut para traveler.

Ini beberapa hal yang membuat nginep di Bandara Incheon itu nyaman: