Saturday, June 21, 2014

Dadakan ke Museum Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Rasanya nggak ada orang Indonesia yang nggak kenal dengan 3 baris Sumpah Pemuda ini. Tapi, taukah kalian tentang Museum Sumpah Pemuda?

Kunjunganku ke Museum Sumpah Pemuda itu tidak terencana. Dikarenakan urusan pekerjaan, kakakku datang dari Jogja dan menginap 2 malam di Hotel Ibis Senen di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Seperti biasa, kalau kakak datang ke Jakarta, aku ikut menginap di hotelnya untuk menemaninya. Di hari terakhir, setelah check-out aku berjalan ke halte Transjakarta Pal Putih untuk pulang ke rumah dan aku melewati Museum Sumpah Pemuda! Langsung saja aku putuskan untuk mampir. 


Tiket masuknya murah meriah!
Untuk masuk ke dalam museum ini, aku cuma perlu menuliskan nama di buku tamu dan membayar tiket masuk seharga Rp. 2.000 saja untuk pengunjung dewasa. Museum ini menempati bangunan sederhana bergaya kolonial ini. 
Beranda Museum Sumpah Pemuda
Begitu masuk ke ruang pertama, saya disambut dengan diorama skala 1:1 yang menggambarkan diskusi oleh tiga pemuda. Di dinding-dindingnya dipasang berbagai poster informasi yang menggambarkan Batavia pada tahun 1900an. Buat saya, melihat Jakarta 100 tahun yang lalu itu sangat menarik, meski lewat foto-fotonya saja. 

Ternyata, Museum Sumpah Pemuda ini merupakan rumah pemondokan pagi para pelajar Indonesia yang menimba ilmu di berbagai sekolah tinggi di Batavia kala itu. Gedung ini juga menjadi tempat latihan kesenian dan lokasi diskusi politik para anggota Jong Java. Jong Java sendiri adalah salah satu organisasi pemuda yang mayoritas menaungi pemuda dan pelajar dari Jawa dan merupakan salah satu organisasi terkemuka dalam Kongres Pemuda. Pada tanggal 18 Oktober 1928, gedung ini (saat itu disebut sebagai gedung Indonesisch Clubhuis) menjadi lokasi penutupan Kongres Pemuda Indonesia, di mana dideklarasikannya Sumpah Pemuda dan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya.


Sejarah Gedung Sumpah Pemuda
Berkeliling Museum Sumpah Pemuda itu seperti membaca ulang pelajaran sejarah yang dulu aku pelajari waktu SMP (eh, apa SMA ya? hahaha).

Di seluruh ruang-ruang pameran museum ini, diceritakan secara runut mengenai even-even yang berhubungan dengan Sumpah Pemuda. Di awali dengan terbentuknya organisasi Boedi Oetomo dan diikuti oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda lainnya seperti Jong Java, Jong Sumatera Bond, Perkumpulan Indonesia, Jong Islam Bond, Jong Batak, dan lain-lain.
Pemuda Indonesia. Salah satu perkumpulan pemuda pra-Sumpah Pemuda 

Logo-logo perkumpulan pelajar pra-Sumpah Pemuda
Perkumpulan-perkumpulan itu umumnya berbasis agama ataupun kedaerahan. Sepak terjang dan pencapaian perkumpulan-perkumpulan itu juga dijelaskan. Para tokoh pemuda saat itu sadar bahwa untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang diidam-idamkan, mereka harus bersatu dan mengesampingkan perbedaan kedaerahan maupun agama. 
Reproduksi undangan untuk menghadiri Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia

Diorama penutupan Kongres Pemuda Indonesia.

Hasil Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia direplikasi dalam pahatan marmer
Untuk menyatukannya, mereka mengadakan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Kongres ini menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda dan dalam kongres ini lah, pertama kalinya lagu Indonesia (nantinya dinamai ulang sebagai Indonesia Raya) dikumandangkan oleh komposernya, W.R. Soepratman. Selanjutnya diceritakan pergerakan-pergerakan pemuda paska Sumpah Pemuda, baik deskripsi, kegiatan dan pencapaian-pencapaiannya. Organisasi-organisasi yang terbentuk tidak lagi berorientasi kedaerahan maupun agama, namun berasas kebangsaan dan nasionalisme Indonesia. 
Indonesia Muda. Salah satu organisasi pemuda paska Sumpah Pemuda
Di salah satu sudut museum, dipampangkan potongan pidato oleh Moehamad Jamin yang disampaikannya dalam Kongres Pemuda Pertama mengenai pemilihan bahasa pemersatu Indonesia. Beliau menyatakan bahwa Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa dengan nilai sejarah kebudayaan dan kemasyarakatan yang sangat tinggi. Namun, Bahasa Jawa sulit dipelajari oleh orang-orang non-Jawa. Di sisi lain, Bahasa Melayu banyak digunakan dalam perdangan, pers, penerbitan, dan komunikasi lintas pulau di Indonesia. Bahasa Melayu juga luwes, susunannya mudah dipelajari. Ini yang menjadi basis dipilihnya Bahasa Indonesia, yang berakar dari Bahasa Melayu untuk menjadi bahasa pemersatu bangsa Indonesia. 
Cuplikan pidato Moehamad Jamin
Museum ini juga dihiasi dengan berbagai patung setengah badan dari tokoh-tokoh pemuda yang terlibat dalam Kongres Pemuda yang menelurkan Sumpah Pemuda.


Hal menarik lain aku temui adalah karikatur Bung Karno dari tahun 30-40an. Untung ada keterangan namanya; kalau tidak nggak akan ketahuan deh itu karikaturnya Bung Karno :D
Karikatur tentang Bung Karno! :D
Salah satu ruangan di Museum Sumpah Pemuda didedikasikan khusus untuk W.R. Soepratman dan sejarah lagu Indonesia Raya. Di ruangan ini juga dipajang biola asli milik W.R. Soepratman yang digunakannya untuk menggubah lagu Indonesia Raya. Dengan biola ini juga beliau memankain lagu itu untuk pertama kalinya pada saat penutupan Kongres Pemuda. Biola ini adalah satu-satunya koleksi asli yang ditampilkan. Display yang lain, misalnya foto-foto, hanyalah karya reproduksinya saja. 


Biola W.R. Soepratman yang digunakan untuk menggubah Indonesia Raya. Asli lho!!
Awalnya, lagu nasional ini hanya diberi judul Indonesia, dimainkan dengan tempo adante (tidak terlalu cepat). Pertama kali dimainkan saat penutupan Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, liriknya kemudian direvisi sendiri oleh sang komposer pada November 1928 dan judulnya diubahnya menjadi Indonesia Raya. Pada 1944, pemerintah pendudukan Jepang membentuk Panitia Lagu Kebangsaan yang diketahui Ir. Soekarno. Mereka melakukan sejumlah perubahan lirik terhadap naskah asli W.R. Soepratman sehingga menjadi lirik Indonesia Raya yang kita ketahui saat ini. Temponya pun dipercepat menjadi tempo di marcia sehingga menjadi lebih gagah dan bersemangat. Atas arahan Ir. Soekarno juga, Jos Cleber menggubah versi orkestra dari lagu kebangsaan Indonesia Raya yang megah itu.

3 versi Indonesia Raya
Membaca tuturan sejarah yang disajikan Museum Sumpah Pemuda ini membuat aku merasa miris dengan kondisi Indonesia saat ini. Pendahulu kita menyadari perlunya kesatuan untuk mencapai Indonesia merdeka. Tapi sekarang sebagian orang Indonesia sepertinya melupakan hal itu, menggangap bahwa kelompoknya yang paling benar, paling berhak 'berkuasa' atas Nusantara. Padahal kelompoknya itu bahkan tidak ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. (Boro-boro memperjuangkan, ada juga belum!!)


Akses ke Museum Sumpah Pemuda
Alamat: Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, Indonesia

Akses dengan Trans Jakarta: Halte Pal Putih
-Kooridor 5(Ancol-Kampung Melayu)
- Jalur PGC - Ancol
- Jalur PGC - Harmoni
Setelah keluar dari halte dan berada di jembatan penyebrangan, ambil arah kanan. Setelah turun dari tangga jembatan penyebrangan, balik kanan dan jalan lurus +/- 5-10 menit. 

No comments:

Post a Comment