Saturday, March 15, 2014

Wat Chalong (Biara Buddha di Pukhet - bagian 2)

2. Wat Chaithararam (Wat Chalong)
Masih meneruskan cerita saya tentang biara-biara Buddha di Phuket, kali ini saya akan bercerita tentang wat terbesar di Phuket, yaitu Wat Chalong. Lokasinya sekitar 7 km di selatan Phuket Town.
Tiga bangunan utama di Wat Chalong
Kompleks Wat Chalong dari atas "Chedi" (The Golden Pagoda)
Meski memiliki nama resmi Wat Chaithararam, wat terbesar di Phuket ini dikenal secara luas sebagai Wat Chalong. Disebut demikian karena wat ini memang berlokasi di subdistrik Chalong, distrik Mueang Phuket. Selain yang terbesar, Wat Chalong juga merupakan wat yang terpenting di Phuket yang ramai dikunjungi oleh penduduk lokal yang datang beribadah. Dan karena wat ini banyak dipromosikan sebagai salah satu tujuan wisata utama di Phuket, sehingga sering dimasukkan dalam rute-rute tur, maka tidak heran kalau banyak wisatawan asing yang mengunjungi Wat Chalong.


Foto-foto berikut adalah Main Hall dari Wat Chalong. Namun saat saya berkunjung, Main Hall ini ditutup karena sedang dalam proses renovasi, jadi saya hanya mengambil foto dari luar saja. Meski cuma dari luar, gedung ini tetap menawan dengan ornamen eksteriornya. 
Main Hall Wat Chalong

Wat Chalong memiliki nilai penting dalam sejarah Phuket. Sudah saya singgung sekilas dalam tulisan saya sebelumnya kalau dulu Pulau Pukhet terkenal sebagai salah satu pusat penambangan timah dan banyak imigran China datang sebagai tenaga kerja di tambang-tambang timah. Nah, pada sekitar tahun 1876, terjadi kerusuhan besar-besaran oleh penambang timah yang berusaha mengambil alih kota Phuket. Wat Chalong ini menjadi pusat penampungan pengungsi. Kepala biara saat itu, Luang Po Cham, yang juga terkenal akan kemampuan pengobatannya, ikut memimpin perlawanan terhadap para pemberontak hingga tentara kerajaan tiba untuk menumpasnya.
Menara lonceng, tempat lilin sembahyang, dan patung-patung gajah di sekitar Shermon Hall

Buddhisme Thailand menempatkan para biksu pada derajat yang sangat tinggi. Setiap wat pasti memiliki bangunan khusus yang didedikasikan khusus untuk memuliakan kepala-kepala biara terdahulu yang sudah meninggal. Tak terkecuali di Wat Chalong, apalagi mengingat pentingnya peran kepala biara Luang Po Cham dalam sejarah Phuket. Oleh karena itu Sermon Hall yang menyimpan patung Luang Po Cham sangatlah megah dan besar. Dibandingkan dengan wat-wat lain yang saya kunjungi di Phuket, bangunan yang didedikasikan untuk kepala biara di Wat Chalong ini adalah yang termegah dan termewah.
 
Sermon Hall dari depan dan samping

Di dalam Sermon Hall, diletakkan juga patung dua kepala biara lain. Banyak umat Buddha yang berdoa dan memnita berkah di depan patung para kepala biara ini. Salah satu caranya adalah dengan menempelken lembaran daun emas ke patung-patung tersebut yang dianggap sebagai penghormatan dan perbuatan kebaikan.
  
Interior Sermon Hall dengan patung-patung kepala biara Wat Chalong yang diagungkan


Tidak jauh dari Sermon Hall, ada bangunan yang kecil yang menaungi sebuah patung Buddha yang diapit oleh dua patung kakek-kakek. Patung Buddha ini bernama Poh Than Jao Wat dan patung kakek-kakek yang berdiri bernama Ta Khee-lek (Kakek Khee-lek) dan patung yang lebih kecil disebut sebagai Nonsi. Kakek Khee-lek adalah penduduk lokal yang terkenal memenangkan banyak lotre setelah berdoa kepada Poh Than Jao Wat. Melihat altar di depan patung-patung ini dan banyaknya lembaran daun emas yang ditempelka, terutama pada patung Poh Than Jao Wat dan Kakek Khee-lek, sepertinya banyak yang berdoa di sini untuk mendapatkan peruntungan yang sama dalam lotre seperti kemujuran Kakek Khee-lek.
Poh Than Jao Wat diapit oleh Kakek Khee-lek dan Norsi
Gedung yang menyimpan patung Poh Than Jao Wat memang tidak besar, tapi pintu dan jendelanya dihias sangat menarik, yaitu berupa ukir-ukiran yang menggambarkan kisah Sang Buddha Siddhartha Gautama. Ukir-ukiran ini dicat emas dengan bingkai berwarna merah yang kemudian ditutup dengan kaca untuk menjaga keawetannya.  
Ukiran perjalanan hidup Sang Buddha di pintu dan jendela

Kembali lagi ke Main Hall, di depannya terdapat semacam menara tungku. Menara tungku ini digunakan untuk menyalakan petasan. Menyalakan petasan adalah pertanda syukur atas doa yang terkabulkan. Sekali dinyalakn, bukan cuma satu petasan yang digunakan. Tapi serentengan petasan, seperti petasan China di klenteng-klenteng di Indonesia, yang bila dinyalakan akan menghasilkan suara ledakan yang luar biasa berisik selama beberapa menit. Saya berkali-kali terkaget mendengarnya. 
Menara tungku petasan

Daya tarik utama dari Wat Chalong adalah bagunan megah tiga lantai ini. Bangunan ini disebut sebagai Chedi atau The Golden Pagoda. Apa sih yang spesial dari Chedi ini? Di lantai tertingginya, disimpan relik suci umat Buddha yang berupa potongan tulang Sang Buddha Siddhartha Gautama.  
Chedi, bangunan terpenting di Wat Chalong yang menyimpan tulang Sang Buddha
Beberapa patung Buddha yang menghiasi tembok luar Chedi

Chedi ini satu-satunya bangunan yang dilengkapi oleh pendingin ruangan, jadi setelah berpanas-panasan di pelataran kompleks Wat Chalong, masuk ke dalamnya sangat menyejukkan; ibarat oase di padang pasir. Baik lantai pertama dan kedua dipenuhi oleh berbagai patung Buddha dengan berbagai pose. Meski ruangannya cukup besar, namun karena diisi sekitar 10 patung Buddha yang berukuran besar, ruangan ini terlihat sesak. Peletakannya di mana semua yang dikumpulkan di tengah berdempet-dempetan memberikan kesan yang kurang tertata dengan baik, meskipun interior di dinding, tangga, pintu dan jendela sangatlah mewah dan berwarna. Sama seperti bangunannya Poh Than Jao Wat, pintu dan jendelanya dihias dengan ukiran perjalanan hidup Sang Buddha, tapi dicat berwarna-warni bukan dengan warna emas saja.
Tangga masuk ke tingkat tertinggi Chedi 
Relik suci ini ukurannya sangat kecil. Ini diletakkan dalam semacam cawan kristal berbentuk teratai yang kemudian ditutup oleh sebuah bola kaca. Bola kaca ini diletakkan di atas podium batu yang dihias sedemikian rupa sehingga seolah-olah ada di atas kolam teratai. 'Kolam' ini kemudian dilindungi lagi oleh tembok kaca mengelilinginya dihias dengan patung-patung yang melambangkan murid-murid Sang Buddha
Relik suci yang berupa serpihan tulang Sang Buddha
Tembok kaca ini bercelah kecil yang digunakan untuk memasukkan uang donasi oleh para umat Buddha yang datang berziarah kemari. Di foto terlihat beberapa uang kertas berceceran di dasar 'kolam'. Aslinya ada lebih banyak lagi tapi tidak terlihat di foto.

Demikian cerita saya tentang Wat Chalong. Nantikan cerita saya selanjutnya tentang Big Buddha di Phuket, Wat Phra Tong, dan Wat Phra Nang Sang di entri-entri berikutnya!


__________________________________________________________
Seri Jalan-Jalan ke Phuket 2014 selengkapnya:
  1. Menginap di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan
  2. Patong Beach
  3. Hedonisme di Soi Bangla
  4. Ada Apa Lagi di Patong?
  5. Phuket Old Town
  6. Biara-Biara Budha di Phuket (Wat Puttamongkonnimit)
  7. Wat Chalong
  8. Big Buddha di Phuket
  9. Wat Phra Tong
  10. Wat Pra Nang Sang
  11. Hong by Starlight bersama John Grey's SeaCanoe

1 comment: